Wednesday, October 12, 2011

Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh, Aurora

Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,
tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu kupu.
Tetapi kupu kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu
mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam ada Bintang Jatuh
yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit
dijadikan satu.
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh
menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung
hanya pada serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya.
“Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati,” ia berbisik,
“tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu hatimu
merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil,
namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya…."Berhenti!”
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun
untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan
dan ketulusan hati Ksatria.

Dicuplik dari Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh oleh Dee Lestari

Saturday, October 1, 2011

Rectoverso

Rectoverso adalah gambar yang saling mengisi antar muka dan depan. Salah satu contoh rectoverso yang bisa kita temui sehari-hari adalah ikon gambar di lembar uang kertas. Misalkan, ada sebuah rectoverso yang secara utuh berupa lingkaran di dalamnya ada lima kelopak, berjajar teratur, dan berpusat pada satu titik tengah.

Di satu sisi kertas, gambar yang dimunculkan adalah lingkaran dengan tiga kelopak. Di sisi lain, adalah gambar lingkaran dengan dua kelopak, yang apabila disatukan dengan sisi baliknya akan menampilkan rectoverso yang utuh, lingkaran dengan lima kelopak yang teratur dan berpusat pada satu titik tengah.

Perspektif kita yang parsial tidak akan melihat bahwa diri kita sebenarnya adalah rectoverso. Terlalu banyak manusia yang menghabiskan seumur hidupnya dalam perasaan hampa, seakan-akan ada sesuatu hilang dari dirinya dan tidak tahu apa. Lalu mereka mencari, dan mencari. Keluar dari inti mereka sendiri, dan kemudian tersesat. Dengan bermacam-macam cara mereka lalu memeras keringat dan otak untuk mendefinisikan “sesuatu” yang hilang itu, yang kebanyakan mereka anggap di “luar” sana.

Manusia memang seolah didesain untuk menunaikan satu misi: mencari tahu asal-usul mereka. Demi kembali merasakan keutuhan itu, yang niscaya akan membuat mereka berhenti merasa kecil dan teralienasi di tengah megahnya jagat raya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata apa yang kita kira selama ini sebagai ketidaklengkapan sebenarnya hanya rectoverso belaka? Yang artinya, kita tidak perlu kemana-mana. Yang artinya lagi, untuk merasa utuh kita hanya perlu mengubah perspektif kita. Ketika kita berhasil mengambil jarak dari benih-benih pemecah-belah dalam pikiran kita, maka rectoverso akan tampil. Yang artinya lagi (dan lagi), apa yang kita ingin cari tidak berada di luar sana. Sebaliknya, sangat dekat, tak berjarak. Temukan kenop kita, dan putar. Lihat dengan cara yang lain.

Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bertingkah seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Apa yang kita butuhkan semuanya sudah tersedia. Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun dapat mengisi apa yang sudah penuh. Tidak ada satu pun yang dapat berpisah satu sama lain. Tinggal kemauan kita untuk mampu menyadarinya, atau tidak.

Temukan kenop kita, dan putar!

Dikutip dari Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dee Lestari

Thursday, September 22, 2011

Muslim Modern

Puisi ini saya dengar saat perlombaan yel-yel kantor di Taman Wiladatika kemarin. Hanya satu bidang yang menampilkan atraksi puisi. Lainnya? Standar. Menyanyi diiringi tepuk tangan.

Muslim Modern oleh Mustofa Bisri

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka berwudhu dengan tisu basah berparfum
Berjumpalitan di kantor dengan tak lupa shalat tahiyyatul kantor
Imam dan Khatibnya cukup televisi 50 inci
tak memerlukan uang transport atau gaji

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka mendapatkan jodoh
melalui komputer biro jodoh
Dan mereka kawin via telepon
dengan penghulu tape-recorder
dan mas kawin kartu kredit

Mereka berkomunikasi jarak jauh
dengan bahasa-bahasa yang saling menyentuh
Mereka tak lagi berbeda pendapat
karena berbeda pendapat menghabiskan energi
dan tidak praktis sama sekali
Mereka menggantinya dengan kebencian dan permusuhan
toh senjata-senjata mutakhir siap dipergunakan
mulai caci maki tajam hingga rudal-rudal kejam

Kaum muslimin pun modern
Bukan, bahkan agaknya sejak lama sekali
Mereka sendiri sudah merupakan robot-robot sejati

ps. Let's identify ourself! *Ambil kaca besar-besar dan bercermin lama-lama*

Sunday, September 4, 2011

Doa

oleh Ajip Rosidi

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menanyang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam menyirak kelopak
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!

Friday, September 2, 2011

Kata Mutiara

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam
di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti
dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa
setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak
kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur
tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali
dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan

Imam Syafii
(767-820 M)


*Imam Syafii adalah ahli hukum Islam yang meninggal di Mesir pada tahun 819 Masehi. Dia berguru kepada Imam Malik di Madinah dan pemikirannya dikenal luas dengan Madzhab Syafii.

**Kata mutiara ini dikutip dari Negeri 5 Menara karya A. Fuadi

Saturday, August 27, 2011

Ular dan Kabut

Oleh Ajip Rosidi (1972)

Di suatu tempat
Entah dimana, di dunia
Seorang menunggumu, berdoa
Seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis shalat
Pada suatu saat, entah apabila, di dunia
Seseorang merindukanmu, berjaga-jaga
Seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat
Seseorang menunggu, merindu, berjaga dan berdoa
Seperti engkau, selalu…


ps. Seems i missed lailatul qadr

Sunday, August 21, 2011

Ramadhan dan Semangat Kemerdekaan

Di bawah ini adalah tulisan yang diperuntukkan untuk sebuah lembaga keilmuan. Saya membuatnya kemarin malam sehabis tarawih dari jam 22.00-01.00 wib. Meski perjalanan tulisan ini agak tersendat karena komputer saya entah mengapa hang terus-menerus, Alhamdulillah tugas ini bisa diselesaikan tepat waktu dengan ditemani alunan merdu Margie Segers dan obrolan ringan dari partner in whatsapp, Dipo.

Teman, saat ini kita sudah memasuki sepuluh malam terakhir. Ayo semangat tingkatkan ibadah! Semoga tahun ini kita mendapat lailatul qadr. Aamiiin.


Oh ya, kata-kata dari Mohammad Iqbal ini adalah one of my fave quotes

“The sign of a kafir is that he is lost in horizon, while the sign of a mukmin is that the horizon lost in him”
-Mohammad Iqbal-

Akhirnya, saya ucapkan selamat membaca dan MERDEKA! :D

Ramadhan dan Semangat Kemerdekaan

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia
Yang mengajar (manusia) dengan pena
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ia bingung. Gemetar. Takut. Tak tahu harus berkata apa.
Malaikat datang padanya dengan membawa sehelai lembaran seraya berkata, “Bacalah!”
“Saya tak dapat membaca,” katanya. Malaikat pun memeluknya dengan keras. Ia sesak. Napasnya tersengal-sengal.
Malaikat kembali menyodorkan lembarannya, “Bacalah!”
“Apa yang harus saya baca?” tanya pria berusia 40 tahun itu.
Untuk kedua kalinya, malaikat memeluknya. Napasnya kembali sesak. Setelah beberapa saat, malaikat melepaskan pelukan dan berkata “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah yang Maha Mulia.”

Dialah Muhammad saw. Penutup para nabi dan rasul. Manusia yang ditunjuk Allah untuk membawa umatnya dari kebodohan menuju jalan terang-benderang. Muhammad, dengan sejumlah wahyu dan sifat kenabian mengajak seluruh masyarat untuk melepaskan diri dari belenggu berhala yang membuat jiwa kerdil.

Saat itu masyarakat Quraisy berada dalam abad kegelapannya. The Dark Age. Saya rasa mirip dengan ibukota kita kini. Jahiliah namun modern. Masyarakat Quraisy pintar berdagang, pintar mengelola sumber alam, tapi bodoh dalam peradaban. Kota yang rusak. Kejahatan merajalela. Norma-norma tak tentu adanya. Hukum menjadi alat kekuasaan.

Ajaran Muhammad kemudian mengubah hal itu. Islam memberi warna dalam metamorfosis kehidupan masyarakat Mekkah bahkan dunia. L. Stoddart berkata bahwa Muhammad saw menjadi penerang jiwa seluruh bangsanya. Ia membawa ajaran tauhid, bersih dari segala kekhurafatan dan kebatilan. Digairahkannya kembali hati bangsa Arab pada agama. Disatukannya manusia dalam persaudaraan universal. Secara berbondong-bondong, seluruh penjuru mengikutinya, antara pegunungan Pyrenia dan Himalaya, antara padang pasir di tengah Asia hingga ke benua Afrika, menuju Rabbul ‘alamin.

Inilah kemerdekaan. Merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Merdeka dari kungkungan penghambaan materiil kepada keesaan Allah. Islam bukanlah agama yang terbatas dalam masjid dan ritual. Sebab Islam adalah agama yang menyeluruh, mengatur hubungan vertikal maupun horizontal, ibadah maupun muamalah. HAR Gibb menyebutkan bahwa Islam sesungguhnya lebih dari satu sistem agama, Islam adalah kebudayaan yang lengkap.

Salah satu ajaran dalam Islam adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Kewajiban ini merupakan sarana dari Allah ta’ala untuk memerdekakan diri dari nafsu yang membelenggu. Tiga puluh hari berjuang menahan makan, minum, serta hal-hal yang mengurangi nilai puasa akan meningkatkan derajat kita dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Puasa meneguhkan kembali hubungan kita dengan Allah. Puasa akan mengokohkan bashirah (hati nurani) kita. Sebab, kata Ustadz Rahmat Abdullah, hati nurani manusia yang beraroma bumi harus disiram dengan bashirah langit, yakni wahyu Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Di bulan Ramadhan tahun 1945, Indonesia berhasil melepaskan diri dari jerat kolonialisme. Semoga Ramadhan tahun ini membuat kita menjadi manusia merdeka seutuhnya. Merdeka bukanlah berbuat apapun semau kita. Merdeka adalah kebebasan untuk menjalankan syariat-syariat yang telah ditetapkan Allah swt.

“Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”
QS. Al-A’raf: 29