Wednesday, April 9, 2008
Tuesday, April 1, 2008
So Romantic...
Suatu hari, Aisyah bercerita kepada Rasulullah SAW:
“Ada sebelas orang perempuan sedang duduk bersama dan saling bercerita. Mereka sepakat untuk tidak menyembunyikan apapun tentang suami-suami mereka. Perempuan pertama berakata, ‘Suamiku seperti daging unta yang kurus, ada di puncak gunung (angkuh), dan sulit dijangkau (pelit dan tidak suka berbuat baik). Tidak ada jalan datar untuk sampai ke sana (berperangai buruk) dan tak ada pula lemak yang bisa diambil darinya (tidak ada kebaikan yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang darinya).’
Perempuan ketiga berkata, ‘Kisah tentang suamiku sangatlah panjang dan tidak berguna untuk diceritakan. Jika aku mengungkapkan keburukannya, maka aku akan diceraikan; dan jika aku diam saja, maka aku akan diabaikan seolah-olah aku bukan istrinya.’
Perempuan keempat berkata, ‘Suamiku seperti suasana malam di Tihamah (dataran rendah antara pantai dan gunung); tidak panas dan tidak pula dingin; tidak menakutkan dan tidak pula membosankan.’
Perempuan ketujuh berkata, ‘Suamiku impoten dan idiot. Semua penyakit manusia ada pada dirinya. Ia dapat melukai kepalamu, atau mematahkan tulangmu, atau bahkan kedua-duanya.’
Perempuan kedelapan berkata, ‘Sentuhan suamiku selembut sentuhan kelinci. Aroma tubuhnya seharum ‘zarnab’ (jenis wewangian terkenal).’
Perempuan kesembilan berkata, ‘Suamiku seperti tiang yang tinggi (mulia). Banyak abu sisa memasak di rumahnya (didatangi oleh dan menyuguhkan makanan kepada banyak tamu). Ia memiliki tali pedang yang panjang (karena postur tubuhnya yang tinggi). Rumahnya pun berdekatan dengan tempat orang-orang berkumpul.’
Perempuan kesepuluh berkata, ‘Suamiku adalah penguasa. Penguasa sepertri apa? Penguasa yang lebih baik daripada apa yang bisa kuceritakan. Ia memiliki unta-unta yang banyak di tempat-tempat binatang itu mendekam. Hanya sedikit unta-untanya yang dilepas (untuk merumput). Jika unta-unta mendengar alat musik, maka mereka tahu bahwa sebentar lagi mereka akan disembelih (untuk dihidangkan kepada para tamu).’
Perempuan kesebelas berkata, ‘Suamiku adalah Abu Zar’in. Siapakah ia? Ia adalah orang yang memberikan perhiasan kepada kedua telingaku, menjadikanku gemuk, dan membuatku senang. Dari keluarga penggembala kambing di sudut gunung (keluarga yang miskin), ia mengangkatku menjadi bagian dari keluarga kuda dan unta, keluarga pemilik tanah yang tinggal menikmati hasil panen. Setiap kali aku berbicara kepadanya, ia tidak pernah mengejekku. Tidurku pun tak pernah terganggu (karena ia telah memiliki pembantu yang mencukupi kebutuhannya). Aku bisa minum sampai puas dan kenyang.
Lalu anak laki-laki kami, Ibnu Abi Zar’in. Ia adalah anak laki-laki yang ramping seperti tangkai kurma terjulur dan akan merasa kenyang hanya dengan memakan sepotong kaki kambing (sedikit makannya).
Kemudian anak perempuan kami, Bintu Abi Zar’in. Ia adalah anak perempuan yang selalu mematuhi kedua orang tuanya, tubuhnya padat berisi, serta selalu membuat iri teman-temannya karena keelokan wajah dan kebaikan budi pekertinya.
Lalu pelayan rumah kami, Jariyah Abi Zar’in. Ia adalah pelayan yang pandai menyimpan rahasia, pandai menjaga amanat, tidak pernah membiarkan rumah kami kotor dan tidak terurus.
Suatu hari, Abu Zar’in, suamiku, keluar rumah. Saat itu adalah masa ketika susu diproduksi menjadi mentega. Ia bertemu dengan seorang perempuan yang ditemani oleh dua orang anaknya yang lincah seperti dua ekor anak macan. Kedua anak itu bermain dengan dua butir buah delima di bawah punggung ibunya (langsing). Maka suamiku menceraikanku dan menikahi perempuan itu. Setelah itu, aku menikah lagi dengan seorang laki-laki yang mulia dan dermawan. Binatang tunggangannya adalah seeekor kuda yang kuat dan tak kenal lelah. Ia memiliki tombak yang dibuat di Khathth (sebuah daerah pesisir di antara Oman dan Bahrain). Aku diajaknya untuk melihat binatang ternaknya yang banyak, lalu ia memberiku dari setiap binatang itu sepasang-sepasang. Ia katakan kepadaku, ‘Makanlah, wahai Ummu Zar’in. Dan ambillah sebagai hadiah untuk keluargamu.’ Jika kugabungkan segala sesuatu yang pernah ia berikan kepadaku, maka semua itu tidak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan bejana paling kecil yang dimiliki oleh Abu Zar’in.’”
Mendengar kisah Aisyah itu, Rasulullah SAW kemudian berkata kepadanya, “Aku bagimu sama seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in. Tapi, aku tidak akan menceraikanmu.”
(HR Bukhari dan Muslim)
*Dikutip dari Aisyah: The True Beauty karya Sulaiman An-Nadawi
Monday, March 31, 2008
Kau...
Bukan, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana
Bukan, kau lebih dari itu
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu
Bukan, kau lebih dari itu
Kau adalah sinopsis semesta
Yang diciptakan Allah untukku
Terima kasih, I Luv U Mama...
Al- Ikhlash
Au nom d'Allah, le Tout Miséricordieux, le Très Miséricordieux.
Dis: "Il est Allah, Unique
Allah, Le Seul à être imploré pour ce que nous désirons
Il n'a jamais engendré, n'a pas été engendré non plus
Et nul n'est égal à Lui"
Kalau diinget-inget, kayaknya surat ini yang aku hapal pertama kali..
dikutip dari www.catatancalondoktermuslim.blogspot.com
The Best Time in My Life
THE BEST TIME IN MY LIFE
When I was in the first grade, I felt so lazy. I never read the books, even touched it. I just played all the time. Read comics, gossip with my friends, went to the mall, and other useless things I’ve done. At that time, I felt that Allah unfair to me. Since that, I became far from Allah. Then, at the end of the first and second quarterly, I got five red scores in my report card. I felt so angry, because it was the first time in my life I got red scores in my report card. Because of that, I started to leave my bad habits, like reading comics and magazines, gossiping, window shopping, etc. and at the end of the third quarter, I passed and entered the second grade at my high school.
At that time, the women not wore veil yet. They still wore clothes that opened in their chest and calf. And finally, Allah revealed order to Moslem’s women in order that they wear veil and close their “aurat”. When that order down, Moslem’s women not asked to Muhammad why their must close their chest and calf. But, they close it immediately with anything that near from them. With the cloth that ripped, leafs, etc. Subhanallah… Moslem’s women closed their aurat immediately when the order was down. How about me? I never wear veil. I felt so guilty, Oh Allah... please forgive me...
After listened that story, I felt so shy to Allah. Why I didn’t close my aurat yet whereas Allah was create me required to every Moslem’s women.
One day, I got a disease; I always felt itches in my knees after ate sauce whereas sauce is the most delicious food in the world and my favorite food. The itch caused my knees became bad. I felt so shy. When I told the disease to my mom, she said “It means Allah love you, Kiki!” “In fact, Allah forbids you to wear skirt above on my knees”.
“But, why only my knees got the disease? Why the other people not?”
“It means Allah more love you than others. Allah loves them, but Allah more loves you. Maybe, it is the time for you to wear long skirt and to wear veil!”
“What mom, I must wear veil?”
“Yes. Why not?”
“I’m not ready, mommy. How if I wear it when I ready to wear that? Maybe when I passed from high school.”
“How you can ready if you always felt not ready.”
“Basically, ready or not you must wear veil in the third grade like your sister.”
After I talked with my mother about wearing veil, I felt confused. How can I wear veil whereas in my opinion a veil is something that strange. How the reaction of my friends? Are they will avoid me? Finally, I asked to K’Ijah about this.
She answered “Wearing veil is a duty, Kiki.”
“What do you choose? Allah was created you or your friends?”
“Let your friends avoid you, certainly Allah still beside you.” “In fact, you can see who are your good friend and bad friend.”
“A good friend usually always pushes you to a better.” K’Ijah gave her advice to me. Oh Allah... I will wear veil when I’m in the third grade (Insya Allah).
princesz_chan@yahoo.com
Sunday, March 16, 2008
Mamam...
Blessed is your name
My beloved
Blessed is your smile
Which makes my soul want to fly
My beloved
All the nights
And all the times
That you cared for me
But I never realized it
And now it's too late
Forgive me
Now I'm alone
Filled with so much shame
For all the years
I caused you pain
If only I could sleep in your arms again
Mother
I'm lost without you
You were the sun that brightened my day
Now who's going to wipe my tears away
If only I knew what I know today
Mother
I'm lost without you
Ummahu, ummahu, ya ummi wa shawqahu ila luqyaki ya ummi
Ummuka, ummuka, ummuka ummuka
Qawlu rasulika
Fi qalbi, fi hulumi
Anti ma'i ya ummi
Mother... Mother...
O my mother
How I long to see
O mother
"Your mother, Your mother, Your mother"
Is the saying of your Prophet
In my heart, in my dreams
You are always with me mother
Ruhti wa taraktini
Ya nura ‘aynayya
Ya unsa layli
Ruhti wa taraktini
Man siwaki yahdhununi
Man siwaki yasturuni
Man siwaki yahrusuni
‘Afwaki ummi Samihini...
You went and left me
O light of my eyes
O comfort of my nights
You went and left me
Who, other than you, will embrace me?
Who, other than you, will cover me?
Who, other than you, will guard over me?
Your pardon mother, forgive me .... ...
text by: sami yusuf ...
Ps. Jazakillah Mba Chai who wanna be Mba Icha, what's different? I dunno..
Ps2. Je suis amoreux de toi, Mamam.. bises!!
Saturday, February 16, 2008
Eternal Sunshine
That’s what I watched in “Eternal Sunshine of The Spotless Mind”. Film ini bercerita tentang sepasang muda-mudi yang merajut cinta. Joel Barish (Jim Carrey), yang merasa dikhianati oleh kekasihnya Clementine (Kate Winslet) memilih jalan yang pernah dilakukan kekasihnya, yakni menghapus segala ingatan tentang semua hal yang pernah mereka lalui.
Namun, saat penghapusan memori terjadi, Joel merasa bahwa ia sangat mencintai Clementine dan tak ingin menghapus kenangan tersebut. Karena kenangan-kenangan itu merupakan “eternal sunshine” baginya.
C’est la poetique film! Je suis serieux! Pour moi, kenangan-kenangan bersama keluarga, teman, sahabat, dan orang-orang terkasih yang membuat kita hidup... Rasanya sangat janggal bila kenangan itu diambil paksa dari otak kita (sounds like we were kissed by Dementor, isn’t it?)
Nah, pas diri kita labil, kita pasti memutuskan untuk menghilangkan sejarah kita dengannya. Bahkan, kita pasti menyesal kenapa kita pernah berjumpa ketika akhirnya harus berpisah. Tapi, coba deh pikir ulang! Tanpa kenangan dan harapan, where’s the sunshine? Lagipula, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan kan? Baik cepat atau lambat..
Aku berharap kenangan yang abadi adalah ketika aku berdakwah dan berjuang di jalan-Nya bersama orang-orang yang memiliki visi, misi, serta cita-cita yang serupa...
Can’t imagine if I lost many memories of that, lebih-lebih kenangan akan Allah...jangan sampai hilang deh! Astaghfirullah!!
Ps. Wanna know the ending? Just watch it! Memang sih, namanya film Barat pasti ada adegan-adegan yang tidak sesuai dengan aturan, di skip aja!
Ps2. Makasih banyak buat semua yang telah memberikan kenangan-kenangan pada diri ini, karena kalianlah saya hidup dan berwarna...
Ps3. Because you, I learn to manage my life!!! Kuambil sepotong hatiku yang berada dalam hatimu dan sebagai gantinya kuberikan sepotong hatimu yang pernah berada dalam hatiku...