Sunday, July 17, 2016

Batas

Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota
Juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata
Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya--dan sebaliknya
Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur

Apa kabar hari ini?
Lihat, tanda tanya itu
Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

Batas
Oleh: Aan Mansyur

Friday, January 8, 2016

Kalau Hujan

Kalau hujan hanya jatuh di tempat yang jauh, maka pasti banyak yang akan menempuh perjalanan jauh demi hujan. Kalau hujan hanya turun dengan lebat, maka pasti banyak orang akan mencari cara untuk membuatnya menjadi rintik.
Karena hujan akan turun dengan ikhlas, maka pasti akan banyak orang jatuh cinta kepadanya. Sejatuh hujan.
-Kurniawan Gunadi-
ps. Allahumma shayyiban nafi'an

Thursday, November 5, 2015

Kehendak-Nya

Adalah kehendak-Nya yang mempertemukan kita
Peraturan-Nya yang memisahkan kita
Rahmat-Nya yang mempertemukan kita
Kisah kita bukan berawal di facebook
Dan berakhir di dinding-dinding kursi pengadilan
Kisah kita berawal dengan murni
Sempat kita hampir mengotorinya
Tapi sekali lagi
Dia melindungi kita dari noda dalam cinta
Ini bukan akhir perjalanan
Ini awal dari kisah luar biasa
Sebuah kisah yang membuat iri para manusia
Akan dimulai kisah baru bagi kami berdua
Pengantar menaiki bahtera
Kisah kami, kisah dua insan yang saling mencinta
Berlindung dari godaan pembisik dusta
Dengan mempercayakan diri pada Sang Kuasa



Dikutip dari: Cinta Subuh 2

Monday, August 10, 2015

Telur

Dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa
terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur

Sapardi Djoko Damono, 1973

Tuesday, June 30, 2015

Mu'ayasyah ma'al Quran

Sudah satu bulan saya tidak memperbarui situs ini. Kali ini saya akan membahas kajian yang dibawakan oleh Ustadzah Ai Nurjannah. Allah swt menciptakan manusia untuk satu tujuan, yakni beribadah kepada-Nya. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56:

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Bagaimana cara mengabdi kepada Allah? Allah juga telah menjelaskannya dalam Quran surat Al-Bayyinah ayat 5:

"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)."

Dari ayat di atas, kita tahu bahwa untuk menyembah Allah haruslah ikhlas, tentu saja dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Lalu, apa tujuan kita beribadah pada Allah? Kita beribadah agar kita mengenal Allah (ma'rifatullah). Salah satu cara untuk mengenal Allah adalah dengan mengenal kitab-Nya. Al-Quran. Buat saya, Quran itu bagaikan surat cinta dari Sang Khalik yang diturunkan untuk hamba-hamba-Nya. Sebab, isi Quran adalah tentang Allah. Semua yang kita ingin tahu dari Allah dapat kita peroleh dari Quran. Maka, salah satu cara ma'rifatullah adalah dengan mu'ayasyah ma'al Quran.

Mu'ayasyah ma'al qur'an adalah berinteraksi dengan Qur'an. Ada lima cara dalam berinteraksi dengan Al-Quran, yakni:

1. Tasmi' (mendengarkan)
Tasmi' adalah interaksi paling sederhana dengan Al-Quran. Kita hanya perlu menyiapkan dua telinga untuk mendengarkan lantunan Quran yang dibacakan oleh seseorang.

"Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."
[Al-A'raf: 204]

2. Tilawah (membaca)
Bacalah Al-Quran dengan tartil, yakni tidak terburu-buru dengan memperhatikan tajwid serta makhraj huruf tersebut.

"... Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan."
[Al-Muzzammil: 4]

3. Tadarrus (mempelajari)
Jika kita sudah membaca Quran, maka jangan lupa untuk mempelajari yang telah kita baca tersebut. Dari sebuah survei yang pernah dikemukakan oleh Ustadz Anwar, hanya 2% dari orang Indonesia yang khatam membaca terjemahan dari Quran. Sungguh amat disayangkan sebab membaca arti dari Quran akan menambah kecintaan dan kekaguman kita kepada Allah.

4. Ta'lim (mempelajari)
Jika kita sudah belajar, jangan segan untuk berbagi pada yang lainnya.

"Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, "Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah," tetapi (dia berkata), "Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!"
[Ali-Imran: 79]

5. Tahfidz (menghapal)

Ketika kita mulai berinteraksi dengan Al-Quran, Al-Quran akan memberikan manfaatnya pada kita, Akan ada rahmat yang berada di qalbu. Apa itu rahmat? Rahmat adalah modal hidup, sebab dengan rahmat hidup penuh kasih sayang. Tanpa rahmat, hidup akan penuh kebencian dan permusuhan.

Manfaat rahmat tertera sebagaimana difirmankan Allah dalam Quran surat Ali-Imran ayat 159:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."

Ada dua manfaat yang didapat dari membaca Quran, yakni mendapat syafaat dan didampingi malaikat yang selalu berbuat baik.

Ada lima cara agar kita konsisten dalam membaca Al-Quran:
1. Mu'ahadah
Kita harus memantapkan hati untuk membaca Al-Quran. Jika perlu buatlah target, misalnya dalam satu hari setengah juz atau satu juz.

2. Muraqabah
Kita harus yakin bahwa Allah mengawasi kita setiap saat.

3. Muhasabah
Kita melakukan introspeksi dan refleksi atas target yang kita buat.

4. Mu'aqabah
Kita memberi sanksi pada diri kita sendiri jika kita lalai dalam membaca Quran.

5. Mujahadah
Berusaha dan bersungguh-sungguh atas apa yang kita lakukan.

Semoga kita semua menjadi ahlul Quran dan mendapat rahmat dari Al-Qur'an, aamiin.


Wednesday, May 27, 2015

Ujub

"(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya." [QS. Al-Kahfi ayat 104]

Ujub ialah bangga akan diri sendiri. Orang yang memiliki sifat ujub akan menjadi sia segala amalnya seperti disebutkan dalam ayat di atas.

Rasulullah saw bersabda, ada tiga hal yang membahayakan diri sendiri, yakni:
  • Kikir terhadap diri sendiri
  • Hawa nafsu yang selalu dituruti
  • Ujub terhadap diri sendiri
Putus asa dan ujub merupakan sifat yang sangat membahayakan diri sendiri. Dua sifat tersebut dapat dilawan dengan kesungguhan dan usaha.

Bahaya ujub ialah:
1. Ujub membawa diri kepada kesombongan
2. Ujub menyebabkan pelakunya mendapat dosa dan murka Allah. Untuk menghilangkannya, ia haruslah memohon ampun dan perbanyak istigfar.
3. Ujub menyebabkan pelakunya dibenci orang lain

Tidak ada manfaat sedikit pun dari ujub. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang tawadhu dan senantiasa dijauhkan dari sifat ujub.

Monday, April 27, 2015

Adab Kefakiran

Asal kalimat faqir adalah patah tulang belakang. Al-Jurnani menjelaskan bahwa fakir adalah kehilangan apa yang dibutuhkan, adapun kehilangan apa yang tidak dibutuhkan tidaklah disebut faqir. Sementara Sayyid Sabiq berpendapat bahwa faqir-miskin adalah orang yang memiliki kebutuhan dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Lawan dari faqir-miskin adalah orang kaya yang berkecukupan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Kaya ialah apabila ia memiliki kelebihan dari kebutuhan pokok yang ada.

Al Raghib Al Ashfahani menjelaskan empat makna faqir dalam Al-Quran, yakni:
a. Tidak adanya kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh semua manusia di dunia
    Semua manusia pada dasarnya merupakan faqir, kita faqir terhadap Allah swt.
b. Tidak mendapatkan barang yang dibutuhkan
c. Jiwa yang serakah, merasa tidak cukup, menyeret kepada kefaqiran
    Seorang yang faqir pada dasarnya bisa saja menjadi manusia yang bahagia asalkan ia memiliki ghaniyatunnafs (hati yang kaya).
d. Faqir kepada Allah, merasa membutuhkan Allah, perlu kepada bantuan Allah swt.

Kefakiran dan kemiskinan bisa saja merupakan bentuk siksa Allah swt sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 112:
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan (tali) perjanjian dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas."

Dari ayat di atas, dapat dilihat bahwa Yahudi mendapat siksa disebabkan oleh empat hal, yakni:
- Mengingkari ayat-ayat Allah swt
- Membunuh para nabi
- Maksiat (durhaka)
- Melampaui batas (berbuat maksiat pada manusia)

Empat hal tersebut juga merupakan indikator untuk membedakan suatu musibah itu disebut ujian atau siksa.

Ada beberapa keutamaan orang faqir, yakni:
- Allah swt mencintai orang faqir yang menjaga kehormatan
- Tidak ada perbedaan kekayaan di mata Allah swt, yang membuat beda adalah ketakwaan manusia itu masing-masing. Nabi saw bahkan pernah ditegur oleh Allah swt karena mengabaikan orang miskin buta yang ingin bertanya tentang agama Islam.
- Pengikut Rasulullah saw berasal dari orang-orang faqir
- Hamba Allah swt yang paling dicintai adalah orang faqir yang qanaah dan ridha atas apa yang Allah berikan padanya.

Ada empat adab kefakiran:
1. Adab batin

Kefaqiran dipandang sebagai cobaan dari Allah swt. Pada kefaqirannya ia tidak suka namun ia memandangnya sebagai ujian karenanya ia tetap cinta kepada Allah swt.

2. Adab zahir

Menjaga kehormatan, tidak memperlihatkan kesusahan, tidak mengeluh pada kefaqiran, namun menyembunyikannya dari orang lain. Ia tidak menunjukkan kesusahannya pada orang lain, malah ia memberi kepada yang lain. Ia tidak menjadi peminta-minta. Karena sikapnya ini, orang-orang menyangkanya ia berkecukupan padahal ia faqir.

3. Adab bergaul dengan orang faqir

Rendahkan diri dan dekati orang faqir. Orang yang tawadhu pada orang miskin akan diberi ganjaran oleh Allah swt. Jangan hanya diam dan tunduk pada orang kaya ketika melihat sesuatu yang salah, sebab ketundukan hanya pada Allah swt (amar ma'ruf nahi munkar).
 

4. Adab dalam menyikapi kefaqiran

Jangan malas ibadah karena sebab kefaqiran seolah-olah ibadah yang banyak tetap membuat diri ada dalam kefaqiran. Jangan sampai berhenti bershadaqah karena sebab faqir. Usahalah yang maksimal dalam berinfaq. Shadaqah dalam masa kefaqiran lebih berharga dibanding dalam zaman kemakmuran.

Dirangkum dari pengajian bulanan Persis oleh Ustad Husen.