Wednesday, January 16, 2008

Kalimat Jurnalistik

Actually, postingan ini dikirim ke milis Yellow Spot dan MJI buat dibaca dan dipraktikkan. Tapi, di tengah jalan, tercetus ide, gimana kalau sekalian kirim ke blog ya?

Tulisan ini adalah buah pikiran A.M. Dewabrata dengan judul Kalimat Jurnalistik. A.M. Dewabrata ini seorang redaktur Kompas dan pernah menjabat sebagai WaPemred Harian Bernas, Yogyakarta.

Selamat Membaca!!!


Kalimat Jurnalistik

Penunjang untuk mencapai keberhasilan penyampaian pesan dalam berkomunikasi satu arah adalah penggunaan bahasa yang efektif. Dalam kehidupan sehari-hari ada orang menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh media massa umumnya komunikatif, dan beritanya pun komunikatif. Sebuah berita yang ditulis dengan menarik akan menyentuh emosi atau pikiran pembacanya sehingga mereka tergugah untuk berbuat sesuatu. Misal berita tentang bencana alam, membangkitkan minat banyak orang untuk segera turut membantu para korban.

Bahasa yang komunikatif dalam penulisan berita ada beberapa syaratnya, antara lain jelas dan jernih, runut ada nalar di situ, tidak ruwet, tidak keruh, kata dan kalimatnya populer. Kalau tidak jernih, pembaca akan bertanya-tanya “apa maksudnya berita (atau kalimat) ini?”. Untuk kejernihan ini, media massa (atau pers) lebih cocok menggunakan kalimat-kalimat pendek agar mudah dicerna oleh pembaca atau pendengar. Juga alineanya tidak terdiri banyak kalimat, cukup dua atau tiga saja, agar mata pembaca tidak lekas lelah.

Harap diingat, di dunia pers yang dimaksud alinea bukanlah sebagaimana dipahami oleh para ilmuwan. Dalam buku-buku ilmiah, alinea dimaknai sebagai kesatuan pikiran yaitu suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat (Dr Gorys Keraf, Komposisi—Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa, Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores, cetakan VII 1984, hlm 62). Menurut guru besar Bahasa Indonesia Universitas Indonesia, Gorys Keraf, alinea “merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam alinea itu gagasan tadi menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampilkan pokok pikiran tadi secara jelas”. (Komposisi, hlm 62)

Dalam sebuah berita, yang dimaksud dengan alinea bukan seperti yang diuraikan Keraf itu. Alinea, bagi sebuah berita adalah kelompok kalimat. Itu saja. Jadi, kesatuan gagasan yang disyaratakan sebuah alinea dalam pengertian dunia ilmu, tidak terdapat dalam “alinea berita”. Alinea dalam berita tak bukan dimaksudkan sekadar memberi perhentian (halte) bagi napas si pembaca dan agar matanya tidak cepat letih. Selain menggunakan alina pendek-pendek, untuk mencegah pembaca agar tidak “terengah-engah”, maka sebuah berita juga diberi subjudul. Kalau hendak disejajarkan, barangkali subjudul inilah yang mirip (tidak sama) dengan alinea pada pengertian penulisan ilmiah.

Subjudul berisi sebuah penggalan cerita yang merupakan kesatuan submasalah dari sebuah masalah yang lebih besar. Masalah yang lebih besar itu tak bukan adalah isi yang diuraikan dalam keseluruhan badan berita di bawah sebuah judul. Satu masalah (misalnya soal pendidikan guru) yang disorot dari berbagai segi dan tiap segi itu dimunculkan dalam sebuah berita, disebut berita bertema. Dalam penyajiannya, masing-masing media massa punya nama tersendiri bagi berita bertema ini, misalnya “liputan khusus”, “latar”, “investigasi”, dan macam-macam lainnya.

Ciri bahasa ragam jurnalistik adalah populer, menggunakan rangkaian kata-kata yang mudah dicerna dalam waktu yang singkat. Unsur-unsur berita yakni siapa, apa, mengapa, di mana, kapan, bagaimana dan juga banyak keterangan lainnya harus disusun secara runut. Ada kecenderungan umum bahwa orang tak senang membaca berita yang susah dimengerti. Padahal, berita ditulis untuk dibaca. Kalau mereka yang diharapkan supaya membaca saja sudah tak mau membaca, lalu untuk apa berita ditulis?

Siapa, apa, mengapa, kapan, di mana, dan bagaimana adalah unsur-unsur esensial dalam berita. Tetapi, bukan sekadar lengkapnya unsur-unsur itu saja yang membuat berita menjadi jelas, gamblang, dan jernih. Cara menyusun kalimat, menaruh satu kata di samping kata lainnya, atau satu kata di samping sebuah frasa/klausa, atau sebuah frasa/klausa di samping kata maupun frasa/klausa lainnya, juga pilihan “kata-kata” akan mempengaruhi jernih tidaknya sebuah uraian berita. Pembaca berharap, apa yang dibacanya dalam media massa adalah yang bisa dimengerti tanpa bantuan pengetahuan khusus.

“Mereka berharap wartawan dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada mereka yang bukan ilmuwan, perihal hubungan-hubungan internasional kepada mereka yang bukan diplomat, masalah-masalah politik kepada para pemilih yang awam (to explain science to nonscientists, international relations to non-diplomats, politics to ordinary voters)” (Frazell, Principles of Editing, hlm 36).

Tokoh lainnya, Arthur Plotnik (dalam Elements of Editing—A Modern Guide to Editors and Journalism) mengingatkan bahwa seorang editor dibayar untuk memproses kata-kata menjadi kemasan komnikasi (communication packages).

Pernyataan ini tak bukan adalah suatu penegasan, bahwa ada jenis kata-kata khusus yang dipakai oleh media massa. Sehingga, setiap orang yang mengasuh media massa wajib mengemas sebagus-bagusnya dan sejernih-jernihnya kumpulan kata-kata untuk menyajikan sebuah berita. Tak terkecuali, wartawan harus juga bisa mengedit (menyunting) beritanya sendiri, sebelum menyerahkan kepada editornya. Bila beritanya itu tidak bagus susunannya, tentu redaktur akan mengembalikan agar diketik ulang. Cara ini memboroskan waktu dan tenaga. Maka, wartawan harus membiasakan diri menulis dan kemudian mengeditnya sendiri agar beritanya perfect dan pima, tak usah dikembalikan oleh redakturnya.

Apa yang dikemukakan oleh Daryl L Frazell dan George Tuck, maupun Arthur Plotnik itu merupakan amanat bagi pengasuh media massa. Hal-hal yang rumit dan berat, kalau sudah dipegang wartawan dan dan ditulis menjadi berita, hendaknya berubah menjadi barang yang ringan dan mudah dipahami. Bagaimana bisa? Ya, karena media massa menggunakan perbendaharaan kata populer sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat. Bedanya dengan bahasa pasar, antara lain hanya soal susunan kalimat yang runut nalarnya, pemilihan kata-kata, dan perlunya atribusi.

Pers adalah transformator bagi kehidupan masyarakat dan berjalannya negara. Pers berfungsi meningkatkan voltase yang rendah dan menurunkan tekanan yang terlalu tinggi; mendinamisasi suasana yang lesu lemah dan menenteramkan suasana yang panas menegang. Pers mengartikulasikan keluh-kesah kalangan bawah agar bisa ditangkap oleh para pembuat keputusan di tingkat tinggi, dan menerjemahkan kebijakan negara yang amat makro menjadi rincian yang langsung bisa dijalankan oleh masyarakat. Semua itu tak lepas dari peranan bahasa ragam jurnalistik.

Supaya paham, ada sebuah contoh yang dikutip dari Kompas, 11 April 2004 halaman 21, berjudul “Lidya Kandou dari Komedi ke Komedi”. Alinea pertama berita itu berbunyi, “Dua puluh lima tahun, pasti bukan waktu yang sedikit untuk urusan karier. Itu juga yang terjadi pada Lidya. Usianya belum genap 17 kala pertama bermain dalam Wanita Segala Zaman tahun 1979. dalam film arahan sutradara Has Manan itu, Lidya berperan sebagai adik Roy Marten yang manja”.

Frasa “yang manja” di situ menerangkan kata yang mana? Menerangkan Roy Marten atau Lidya? Atau dengan pertanyaan lain, siapa yang manja? Roy Marten ataukah Lidya? Pembaca mungkin tidak paham siapa yang manja, karena sampai kalimat terakhir dalam berita itu tidak dijelaskan lebih jauh. Bahkan tidak ada keterangan yang implisit sekalipun untuk itu. Kita boleh menebak-nebak bahwa yang manja adalah tokoh yang diperankan oleh Lidya (yakni “adik Roy Marten”). Tetapi, bisa jadi tebakan kita salah, karena frasa “yang manja” berada di belakang Roy Marten.

Seandainya kalimat terakhir tersebut dipecah dan ditulis seperti berikut ini, tidak ada kerancuan tentang siap yang manja. “Dalam film arahan sutradara Has Manan itu, Lidya memerankan tokoh adik yang manja. Sedangkan tokoh kakak diperankan oleh Roy Marten”.

Jelaslah bahwa yang manja adalah tokoh adik yang diperankan oleh Lidya.


Kalimat yang Mengalir

Lamaran kerja, laporan kerja, laporan ilmiah, maupun buku-buku ilmiah umummnya menggunakan bahasa yang formal kaku (rigid). Tidak demikian bahasa ragam jurnalistik. Ragam jurnalistik harus luwes supaya tidak menjemukan pembacanya, bahasanya populer agar mudah dicerna. Kalimat untuk menulis berita harus singkat padat, karena space (halaman) amat terbatas.

Dalam penulisan berita, pemborosan kata-kata mendapat toleransi hanya berlaku untuk soft news (berita ringan), khususnya feature. Soft news biasanya ditulis agak panjang kendati isinya tidak begitu penting. Sifatnya memang untuk mengendorkan syaraf si pembaca/pendengar. Kecuali artikel/opini, isi soft news pun kebanyakan barang yang ringan-ringan. Dari isinya itulah nama soft news didapat. Sebuah soft news memperoleh nilai bagus justru dari cara penyajiannya yang luwes dan kadang boros kata-kata itu, bukan dari substansinya, karena isinya sendiri umumnya tidak mengemparkan atau amat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Soft news itu hiburan, pleasure, amusing, maka seperti hiburan lainnya, biayanya mahal, makan tempat yang mestinya bisa diisi berita lain atau iklan.

Bahasa ragam jurnalistik, sebagaimana tampak dalam contoh-contoh di atas, tidak menggunakan kalimat kaku. Alineanya pun pendek-pendek, berbeda dengan alinea pada buku atau laporan ilmiah yang kadang satu halaman terdiri dari satu alinea.

Kalimat jurnalistik harus nalar, tapi bukan berarti disusun seperti laporan ilmiah akademik yang panjang beranak cucu-cicit. Kalimat-kalimat yang panjang sebaiknya dipecah menjadi kalimat-kalimat pendek. Dengan demikian akan cepat dipahami makna dan pesannya.

Jika dalam kalimat berita itu ada bagian yang harus dijelaskan lebih jauh, maka penjelasan itu ditaruh dalam kalimat berikutnya atau dalam alinea berikutnya. Mengapa? Karena pembaca cerita atau berita di media massa hanya punya waktu singkat untuk segera memahami isi dan pesannya.

Kalimat jurnalistik juga harus mengalir, tidak tersendat-sendat. Wartawan wajib mengerti bahwa pembaca/pendengar bukan hanya mencari isi substansinya, melainkan juga menyenangi cara menulis dan menyajikannya. Wartawan jangan hanya berpikir soal nilai nominal sebuah berita, tetapi hendaknya juga paham tentang nilai intrinsik sebuah naskah. Jangan hanya menguasai what to say, tapi juga harus piawai how to say.

Berikut ini contohnya, dikutip dari Kompas tanggal 14 April 2003 halaman 20, berjudul Benteng Malborough Karang Kurang Terawat. Isinya sebagai berikut:

Benteng bersejarah peninggalan penjajah Inggris dari abad ke-18, Fort Marlborough di Bengkulu, saat ini kondisinya kurang terawat. Akibatnya, kondisi bangunan yang dulu berfungsi sebagai benteng pertahanan militer dan sebagai tempat pengawasan jalur perdagangan tersebut, terkesan kumuh.

Menurut pengamatan Kompas, Minggu (13/4), dinding luar benteng yang konon merupakan benteng terbesar yang dibangun Inggris di Asia setelah Benteng St George di Madras, India, tersebut tampak kusam dan ditumbuhi lumut. Sedangkan dinding dalam benteng yang bercat putih, juga mengelupas di banyak tempat dan berjamur.

Bahkan di salah satu sudut benteng yang menghadap ke laut, kini telah berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Kondisi ini membuat benteng yang sangat kuat itu terlihat jorok. Kekuatan benteng ini teruji ketika terjadi gempa di Bengkulu pada tahun 2000, tidak seperti bangunan lainnya di Bengkulu, benteng Fort Marlborough tidak mengalami kerusakan berarti.

Selain itu, di beberapa dinding benteng yang dibangun tahun 1714 tersebut, terdapat banyak coretan yang merusak keindahannya. Bahkan sejumlah meriam yang dipasang di atas benteng, juga tidak lepas dari tangan jahil. Sejumlah meriam juga dipenuhi dengan coretan tangan.

Bangunan-bangunan dalam benteng juga sudah rusak. Bangunan rumah yang memanjang benteng tersebut, atasnya sudah banyak yang bocor karena gentingnya patah.

Kondisi langit-langit atas tidak kalah memprihatinkan karena sudah jebol di sana-sini. Cat di dinding bangunan ini juga sudah terkelupas dan berjamur sehingga kusam....

Berita ini “hanya” bercerita tentang benteng tua yang tidak diurus oleh pihak yang berkompeten. Maksudnya, tentu mengingatkan bahwa dalam situasi politik yang hiruk-pikuk alam reformasi yang hanya diisi mencari kursi, mana ada pejabat memperhatikan benda-benda bersejarah macam benteng di Bengkulu. Para politisi lebih senang hingar-bingar berebut kekuasaan. Bukan berebut berbuat kebajikan. “Tolong perhatikan benda-benda itu, jangan memikir diri sendiri saja!”, kira-kira begitulah pesan yang hendak disampaikan oleh si wartawan.

Walau ceritanya ringan, tetapi berita itu dari atas mengalir lancar sampai akhir, tidak tersendat. Kalau boleh menyerupakan, ini sebuah contoh menulis berita itu mirip mendongeng. Isi dongengnya bagus, kalau cara mendongengnya tidak menarik, maka pendengarnya mengantuk semua, alias tidak ada yang mendengar. Demikian juga berita, walau isinya bagus kalau cara menyajikannya tidak atraktif, maka tak ada yang membacanya.

Beda dengan laporan resmi instruksional. Cerita benteng tersebut, kalau dituliskan dalam bentuk laporan pejabat pemerintah kepada atasannya, kira-kira bentuknya formal seperti ini:

Kondisi benteng Fort Marlborough di Bengkulu.

  1. Nama bangunan bersejarah: benteng Marlborough
  2. Letak: di jalan..., Kota Bengkulu
  3. Keadaan secara keseluruhan: rusak berat
  4. Rincian kerusakan:
  1. Atap: bocor di bagian ini, itu, dst.
  2. Dinding luar: rusak di bagian ini, itu
  3. Dinding bagian dalam: kamar depan rusak di sini, situ, dsb.
  4. Pintu yang rusak: depan, pintu kamar nomor...
  5. Dan seterusnya
  1. Halaman: banyak ditumbuhi rumput, terutama ilalang
  2. Dugaan: kerusakan diduga karena lekang dimakan umur dan tangan-tangan jahil
  3. Dst.

Kesimpulan: keadaan yang rusak sekian persen, dan yang masih bisa digunakan sekian persen. Perkiraan sementara biaya yang dibutuhkan untuk rehabilitasi ialah sekian juta rupiah.

Laporan institusional dibuat seperti itu dengan maksud agar pihak yang berkompeten atau berkepentingan mudah melihat keperluannya. Misalnya akan menghitung biaya perbaikannya, maka dilihatlah berapa titik rusak di atap, pintu, kamar, dan sebagainya. Yang diperlukan data rinci, urut point per point, bukan aliran cerita sebagaimana dalam alur berita.

Penggunaan Gaya Bahasa

Dalam sastra ada yang disebut gaya bahasa. Kalimat jurnalistik kadang membutuhkan gaya bahasa untuk memberikan penguatan pesan dan kesan. Upaya membuat jernih susunan kalimat itu tak bukan agar pesan yang disampaikan oleh wartawan lewat beritanya mudah ditangkap, mudah dimengerti, mudah dipahami oleh pembaca. Gaya bahasa mungkin juga yang bisa menolong menambah mudah pemahaman atas sebuah kalimat.

Kalimat jurnalistik untuk menyusun sebuah soft news macam feature, akan lebih bagus menyisipkan di sana-sini gaya bahasa yang menarik. Soft news adalah cerita ringan, yang daya kejut atau daya cengangnya tak begitu kuat, maka perlu ditulis dengan gaya bahasa yang menarik untuk menambat agar pembaca tidak “membuang” berita itu.

Akan tetapi, kadang dalam berita biasa (hard news) pun gaya bahasa dapat digunakan untuk memberi kesan atau suasana tertentu. Misalnya saja seorang remaja yang nyaris terserempet mobil di jalan depan sekolahannya, dilukiskan dengan kalimat: “Anak itu mukanya pucat mayat bagai mayat saking takut dan kagetnya”. Penggambaran muka pucat seperti mayat adalah gaya bahasa asosiasi untuk menyengatkan suatu keadaan. Seseorang yang amat perasa dikatakan: hatinya selembut sutera.

Banyak gaya bahasa yang bisa digunakan untuk menyusun kalimat jurnalistik agar pesan lebih jelas atau tegas. “Kampanye itu tak juga dihentikan walau hujan mengguyur lapangan dan geledek menyambar-nyambar”. Hujan digambarkan seperti manusia, bisa mengguyur. Hujan itu hanya turun dari langit, bukan sengaja mengguyur atau menyiram ke tanah. Gaya bahasa yang menganggap benda mati bisa bersikap dan berbuat bagaikan manusia, disebut “personifikasi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm 864).

Berikut ini contoh amat kuat penggunaan gaya bahasa personifikasi untuk menggambarkan nasib buruk petani jeruk Pontianak, dengan sajian berita perbandingan harga jeruk asli Pontianak dengan jeruk dari Malaysia. Dikutip dari harian Kompas halaman 29 terbitan 7 Mei 2004. berita headline halaman itu, judulnya “Jeruk Malaysia Hantam Jeruk Pontianak”. Dalam judul ini, kata menghantam laiknya orang galak sedang memukul dengan gada ke kepala lawannya. Isi alinea pertama dan kedua sebagai berikut ini (kutipan dalam kursif dan kata-kata yang digayakan ditulis tegak dan tebal).

Membanjirnya jeruk dari Malaysia yang masuk melalui perbatasan Sarawak, Malaysia Timur, ke Kalimantan Barat telah menghantam jeruk Pontianak yang saat ini mulai bangkit kembali setelah 14 tahun terpuruk. Ironisnya, jeruk Malaysia yang dijual murah tersebut varietasnya sama dengan jeruk Pontianak, bahkan bibitnya diambil dari Kalimantan Barat dan kemudian dibudidayakan di Malaysia.

Sejumlah pedagang yang ditemui di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis, (6/5) mengungkapkan, meski bentuk, ukuran, dan rasanya sama, harga jeruk Malaysia lebih murah dibandingkan dengan jeruk Pontianak.

Dengan gaya bahasa personifikasi (di alinea pertama) tersebut si wartawan bermaksud melukiskan penderitaan para petani jeruk di Kalbar, gara-gara ada serangan (nah, ikut-ikutan gaya personifikasi juga) jeruk dari Malaysia yang dijual murah macam barang obralan saja. Alinea kedua yang dikutip dari sumber yang kompeten masalah jeruk, berfungsi untuk menguatkan apa yang digambarkan pada alinea pertama.

Direktur Urusan Kenakalan Remaja, Dr Baguna, terpaksa naik bebek ke kantor karena semua jalan tersumbat mobil peserta kampanye. Hanya motor yang mudah menerobos kemacetan.

Benarkah Baguna naik bebek yang unggas itu? Tidak. Ia naik sepeda motor merek Honda 70 cc yang di masyarakat dikenal dengan bebek. Kata bebek yang menggantikan sepeda motor dalam ragam sastra dikenal dengan nama gaya bahasa “metonomia”, yakni melukiskan sesuatu melalui persamaan benda, orang, atau sesuatu lainnya.

Masih banyak lagi gaya bahasa, dan bisa digunakan untuk menulis berita asal penggunaannya itu memperjelas isi berita atau pesan yang hendak disampaikan oleh si wartawan maupun sumber berita. Kalau justru memperkeruh pesan dan kesan, sebaiknya berita ditulis menggunakan bahasa yang lugas saja, tidak usah digayakan seperti cerita sastra.

* Dikutip dari Kalimat Jurnalistik karya A.M. Dewabrata dengan sedikit editan.

No comments: